PERTEMUAN NABI MUSA عَلَيْه٠ٱلسَّلَام٠DENGAN ALLAH Ø³Ø¨ØØ§Ù†Ù‡ Ùˆ تعالى (Studi Psikologi Sufisme Kisah Musa dalam Tafsir Ibnu Katsir)
DOI:
https://doi.org/10.36668/jal.v9i2.196Keywords:
Pertemuan Nabi Musa, Allah, Psikologi Sufisme.Abstract
Jenis penelitian yang penulis gunakan di sini adalah penelitian kepustakaan (library reseach) dengan pendekatan psikologi sufisme. Pendekatan psikologi sufisme merupakan pendekatan dengan mempelajari dan memfokuskan pada tiga konsep dasar psikologi sufi, yaitu hati, jiwa dan ruh.
           Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan dalam penelitian ini, dapat penulis simpulkan sebagai berikut: (1) Pertemuan nabi Musa menurut pandangan sufisme (para Arif Billahi ) adalah bisa terjadi dengan Nur mukhasyafah. Bahwa yang dimaksud dengan melihat Allah bukan berarti melihat Dzat-Nya (bentuk rupa). (2) Dikalangan sebagaian Ulama sufi terdapat keyakinan bahwa melihat Tuhan bisa terjadi dengan pandangan mata batin yang mendapat nur dari Allah. (3) Firman Allah “engkau tidak dapat melihatku†tidak bisa melihat Tuhan. Tetapi tidak berarti menutup kemungkinan untuk dilihat dengan mata hati. Bila mata hati itu dilengkapi oleh Allah dengan Nur-Nya yang kemudian disebut dengan “nurul bashirah†(cahaya pandangan batin yang disebut (bashar) yang kemudian mata kepala sama sekali tidak berfungsi termasuk tidak berfungsinya daya pikir dan seluruh kemampuan fisikal (jasmani) yang oleh orang sufi digambarkan dengan fana dzauqy maka kondisi itulah terjadi melihat Tuhan. (4) Pingsangnya nabi Musa disebabkan karena ketidakmampuannya melihat Allah, dan ini bukan berarti Allah tidak bisa dilihat.(5) Tasbihnya Musa setelah sadar menunjukkan kekurangan dan kelemahan Musa yang tidak mampu melihat Allah di dunia, dan tidak semua yang bisa dilihat berarti tidak baik atau kurang. (6) Melihat Allah di dunia tidak pernah dilihat dengan mata kepala baik oleh nabi Musa maupun Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa salallam. Allah hanya bisa dilihat di dunia dengan pandangan hati atau lewat mimpi sesuai dengan kapasitas keimanan dan keyakinannya kepada Allah. Adapun pada hari kiamat kelak Allah akan dilihat oleh seluruh makhluknya. Tetapi melihat allah yang hakiki menjadi tambahan kenikmatan hanya bisa dirasakan oleh orang mukmin setelah mereka masuk surga.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Authors who publish in AL-MANAR: Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work. (See The Effect of Open Access)
