PEMIKIRAN POLITIK TENTANG NEGARA DI KALANGAN SYI’AH

Rifa'i Abu Bakar

Abstract


Syi’ah meyakini bahwa  imamah  bukan hanya sebagai lembaga politik, tetapi juga lembaga agama dan spiritual. Imam bukan saja pemegang otoritas politik, tetapi juga otoritas agama sebagai marja’ bagi umat dan pelanjut risalah Allah atau membawa missi suci meneruskan tugas-tugas Rasulullah Saw. Oleh karena itu seorang imam haruslah sama kualitasnya dengan Nabi atau mendekati Nabi dan  orang yang memiliki kualitas mendekati Nabi adalah Ali ibn Abi Thalib dan keturunannya. Syiah memandang bahwa  kehadiran  sebuah negara dalam  kehidupan  umat Islam  sangat  penting  untuk menjaga agama,  agar dengan sebuah Negara  hukum-hukum Islam dapat  terjamin pelaksanaannya, sehingga mampu menjamin   bahwa Islam  tetap    eksis    di muka bumi Allah.  Oleh karena itu,  negara Islam yang sudah dibangun harus dipimpin atau  dikendalikan oleh seorang imam atau pemimpin  yang  memenuhi  kriteria yang  disepakati oleh kaum Syiah, antara lain harus  orang yang  senantiasa mena’ati perintah Allah SWT, tidak boleh serakah, kikir dan egois, haruslah orang yang pandai, tidak berlaku kasar, tidak bersikap zalim, tidak boleh menerima suap dan tidak boleh mengabaikan sunnah.

Keywords


Politik, Syi’ah dan Negara

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.36668/jal.v8i2.121

Article Metrics

Abstract view : 0 times | PDF view : 0 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



Editorial Office:

Al-Manar : Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam

Jalan PringgoKusuman No.12 

Gedongtengen Yogyakarta, DI Yogyakarta, Indonesia, 55272

Phone: 0274- 580170

e-mail: almanar@journal.staimsyk.ac.id